Menikmati Keindahan Dieng, 25-27 Nov 2016

Saat pertama kali wisata ke Dieng bareng Triphemat, bulan Mei 2015 saya jatuh cinta dengan keindahan alamnya dan berkata kalau suatu saat saya akan kembali lagi. Dan Alhamdulillah weekend kemarin, 25-27/11/16, keinginan tersebut terealisasi.  Saya kembali ke Dieng dengan mengikuti opentrip yang diselenggarakan oleh GWS tours. Rencana perjalanan akan dimulai dari meeting point Kalibata Mall dan peserta diharapkan berkumpul jam 18.00-19.00 agar bisa tiba di Dieng sabtu pagi jam 07.00-08.00.

Jumat, 25 November 2016

Saya menuju Kalibata mall dari BSD sekitar jam 16.30 dengan menumpang Bus Agra jurusan Bekasi yang akan keluar di pintu tol Lenteng Agung. Melihat situasi tol BSD-Veteran sangat lancar, saya berharap sekitar jam 18.30 paling lama sudah sampai Mal Kalibata.  Sayangnya, ketika bus kembali masuk tol setelah menurunkan dan menaikkan penumpang di Jl Veteran, kondisi jalanan berubah, berbanding terbalik dengan situasi tol BSD-Veteran. Mulai dari Pondok Indah jalanan padat merayap cenderung stuck. Sampai jam 18.00 bus masih berada di sekitar tol Pondok Indah, hingga saya yakin tidak akan terkejar jam 18.30 sampai di Mall Kalibata. Sepanjang perjalanan di tol saya berkomunikasi via WA dengan mas Mugi dari GWS untuk menginformasikan posisi serta meminta agar ditunggu sekiranya memungkinkan. Hal ini mengingat posisi bis di jalan tol yang tidak memungkinkan bagi saya untuk turun dan berganti moda transportasi lain. Hingga akhirnya sekitar jam 19.00 bis yang saya tumpangi keluar di pintu tol Lenteng Agung dan saya turun untuk melanjutkan perjalanan menuju Kalibata Mall. Menggunakan Jasa pak Ojek yang melintas di depan saya, akhirnya saya tiba di Kalibata Mall sekitar jam 19.15. Beruntung jalan raya pasar minggu tidak begitu padat malam itu. Mobil sudah siap berangkat dan saya segera masuk sambil minta maaf dan berterima kasih kepada semua peserta karena membuat mereka menunggu. Ya, sebagian peserta sudah standby sejak sebelum jam 18.00, sehingga saya tau rasanya menunggu lama, apalagi saya satu-satunya peserta yang paling lambat datangnya.

Sesaat setelah saya duduk -peserta lengkap 🙂 -, minibus yang kami tumpangi segera melaju menyusuri jalanan Dewi Sartika, Cawang, Tol Jakarta – Cikampek – Cipali-Brexit diselingi beberapa kali rehat menuju Dieng via Banjarnegara. Kami tiba di Lidah Buaya Homestay, tempat kami menginap Sabtu pagi sekitar jam 08.00.

Sabtu, 26 November 2016.

Setelah menikmati sarapan pagi dengan menu Soto ayam yang disediakan pengelola homestay, perjalanan wisata Dieng hari pertama segera dimulai. Tujuan wisata pertama kami adalah Kawah Sikidang. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari homestay, kami hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit menuju kawah Sikidang. Cuaca pagi itu sangat cerah sehingga kami bisa menikmati kawah Sikidang dengan gembira.

sikidang1

Ikon Kawah Sikidang

peserta

Sebagian Peserta Trip

Kawah Sikidang merupakan cekungan yang berisi kawah yang timbul karena aktivitas gunung berapi di dataran tinggi Dieng. Jika biasanya kita harus mendaki untuk dapat menikmati suatu  kawah pegunungan, tidak demikian di Kawah Sikidang, kita hanya perlu berjalan beberapa meter dari parkiran sudah dapat menikmati kawah Sikidang. Untuk menuju kawah kita melewati pedagang yang menjual berbagai hasil pertanian seperti Kentang, Cabe, Wortel, Terung Belanda, Carica, Jamur dan aneka makanan olahan khas Dieng.

terung-belanda

Terung Belanda, Kentang dan aneka jajanan khas Dieng

cabe

Cabe Gendut

dscf1530

Segarnya. Membayangkan jus wortel. Rasanya pingin bawa pulang semua.

Saat trip pertama, kami sampai di Kawah Sikidang sore hari dan kondisi hujan, sehingga hanya sebentar dan tidak banyak photo-photo.  Nah kali ini karena cukup cerah, jadilah saya narsis pepotoan di beberapa spot dengan dibantu oleh mas Muji (IG : @mars.wt) dan Mas Agus, keduanya tour leader dari Dieng.

dscf1576

Langit Cerah

dscf1574

Uap Kawah dan Awan menyatu.

dscf1590

Mendaki sedikit di belakang Kawah. Photo lagi :))

Kawah Sikidang saat ini berbeda dibandingkan dengan tahun 2015 saat pertama kali saya kesini. Saat ini banyak property pribadi yang ditempatkan di berbagai spot dan disewakan untuk photo-photo. Termasuk memberdayakan (atau “mengeksploitasi”?) kuda dan burung hantu.

dscf1550

Kingkong. Spot Photo buatan. photo langsung jadi 10rb, photo pakai kamera sendiri 5rb.

  dscf1536

dscf1573

dscf1571

Bisa Keliling naik Kuda

dscf1539

Burung Hantu untuk “properti” photo 😦

dscf1548

dscf1557

Hiks.. “aku biasa terjaga di malam hari dan tidur siang hari..”

dscf1563

dscf1619

dscf1618

Telur Rebus Kawah Sikidang

dscf1620

Kawah Panas. Hati-hati melepuh..

Setelah puas berkeliling Kawah Sikidang, saya kembali ke Mobil dan menunggu peserta lain yang sepertinya masih asyik berbelanja. Tujuan perjalanan selanjutnya kami akan menuju ke Telaga Warna. Jarak Kawah Sikidang menuju Telaga Warna juga tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 10-15 menit dengan mobil.

Telaga Warna merupakan salah satu tujuan wisata Dieng yang cukup terkenal. Menurut Wikipedia, nama Telaga Warna sendiri diberikan karena keunikan fenomena alam yang terjadi di tempat ini, yaitu warna air dari telaga tersebut yang sering berubah-ubah.[2] Terkadang telaga ini berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi.[2] Fenomena ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar Matahari mengenainya, maka warna air telaga nampak berwarna warni.

Kombinasi udara yang sejuk, Pepohonan yang rindang, dan air telaga yang berwarna warni sangat menyejukkan mata. Meskipun untuk kedua kalinya saya ke sini, saya tetap excited dan narsis pepotoan di berbagai spot. mau apalagi khan?, karena salah satu alasan jalan-jalan adalah untuk narsis pepotoan dan menikmati keindahan Alam, hehehehe.

dscf1782

Telaga Warna

dscf1656

Ada Pohon Tumbang Narsis dulu aahh

dscf1658

Narsis bareng mba Dini, Teman sekamar

dscf1679

Warna warni bunga Menur

dscf1768

Main Air dulu. Mau maju lagi takut tercebur

dscf1771

Santai dulu…

dscf1770

Menikmati Indahnya pemandangan alam

dscf1774

Main Air Lagi ahh..

dscf1707

narsis dimanapun.. 😀

dscf1654

Di balik ranting, tetap indah

Setelah keliling, photo-photo sana sini akhirnya kembali ke parkiran setelah lewat jam 13.00.Sebelum kembali ke homestay, perjalanan dilanjutkan ke Kawasan Candi Arjuna.

dscf1813

Candi Arjuna

dscf1805

Let’s jump..

dscf1807

Melompat lebih tinggi..

dscf1810

Menikmati Pemandangan Sekitar Candi Arjuna

dscf1844

Teletubis

Dan akhirnya, waktunya untuk kembali ke homestay dan menikmati makan siang. Rencana semula setelah makan siang perjalanan akan dilanjutkan ke Dieng Plateu Theater dan Batu Ratapan Angin. Namun begitu, saat kami tiba di homestay hujan mulai turun, sehingga rencana ke Dieng Plateu ditunda. Semula beberapa orang di antara kami juga merencanakan  akan photo-photo malam hari di kawasan Candi Arjuna jika cuaca memungkinkan. Namun setelah hujan dan kabut, rasanya rencana malam nanti juga batal.

Sebagian besar peserta memilih istirahat dan menikmati tidur siang menjelang sore di homestay.  Sekitar jam 15.00 saya lihat hujan sudah berhenti, meski kabut tipis masih menyelimuti suasana sore itu. Saya memutuskan untuk keluar melihat-lihat sekitar homestay dan mengingat jalan yang pernah dilalui saat perjalanan tahun 2015. Saat itu kami menginap di Dieng Pass homestay, yang tidak jauh dari icon “Welcome to Dieng”. Berbekal jas hujan, air mineral dan kamera saku saya berjalan menyusuri jalanan hingga  sampailah di icon tulisan “Welcome to Dieng”. Sampai di sini saya mengingat-ingat lokasi Dieng Pass home stay dan jalan menuju jalur pendakian Gn. Prau.

dscf0090

Sekelompok Pendaki sedang berdiskusi. Welcome to Dieng

dscf0092

Tahun 2015 kami pernah menginap di sini. Alhamdulillah masih ingat jalannya.

Setelah melewati Diengpass homestay, saya menyusuri jalan menuju Basecamp Pendakian Gunung Prau via Dieng.

dscf0096dscf0097

dscf0098

Saya ingat saat pertama kali trekking ke Gunung Prau, 10 menit pertama saya sudah mau balik ke homestay karena napas ngos-ngosan dan merasa tidak bisa melanjutkan perjalanan, khawatir kalau nanti merepotkan teman-teman lain. Beruntung saat itu perlahan saya melanjutkan perjalanan dan sampai ke puncak, bisa menikmati sunrise dari Gn Prau.  Dan selanjutnya banyak perjalanan hiking & Trekking ke tempat lain, yang ternyata seru dan sangat menyenangkan.

dscf0102

Lahan Pertanian. Jalur menuju basecamp Prau via Dieng

dscf0112

Pos Pendakian, Registrasi, Musholla, Basecamp, Toilet. Saat 2015 ke sini belum ada pos registrasi ini.

dscf0116

Mengabadikan keceriaan pendaki yang sudah tiba kembali di basecamp

dscf0140

Selfie di Tengah Ladang dan Kabut

dscf0129

Papan Penunjuk arah menuju puncak

Saya terus menyusuri jalan di antara lahan pertanian warga dan menikmati udara sore yang masih berkabut. Setidaknya olahraga, jalan sore sampai pos 1, begitu pikir saya. Di tengah perjalanan bertemu dengan para pendaki baik yang mau turun maupun naik.

dscf0149

Saya ingat dulu di samping warung ini ada motor trail buat narsis Kas. hahaha

dscf0154

Selamat Datang kembali…

dscf0159

Rombongan Pendaki dari Bandung.

Bertemu rombongan dari Bandung, bareng beberapa saat dan saya terus menyusuri jalan menuju pos 1 mendahului mereka.

dscf0164

Yeayyy. sampai pos 1. Alhamdulillah

Saat sampai di pos 1 cuaca lebih cerah dibanding saat di bawah. Kabut perlahan menghilang. saat itu mungkin sekitar jam 16.00 sehingga saya melanjutkan perjalanan menuju pos 2 atau paling tidak sampai jam 17.00 untuk kemudian kembali turun.

dscf0176

dscf0180

Berhenti sejenak di jalur menuju pos 2

Kira-kira jam 16.40 akhirnya saya sampai di pos 2. bertemu dengan rombongan pendaki, ngobrol sejenak dan saling memotret

dscf0201

dscf0207

dscf0213

Bukti kalau sampai pos2 nih. hehehe

dscf0203

menikmati pemandangan dari pos 2

Diajak gabung sama rombongan pendaki tersebut untuk sampai ke Puncak.  Tapi karena tidak membawa perbekalan, juga tidak membawa headlamp maka jam 16.45 saya turun dan kembali ke homestay.

DSCF0221.JPG

Menyusuri Jalan turun. Cuaca cerah

dscf0215

Bertemu Pendaki -salah satu rombongan yang dari bandung- Saat naik sempet bareng dan saling memotret saat berada di antara 2 pohon, pos 1 menuju pos 2.

dscf0229

Sampai kembali ke basecamp. Mana Sampahmu?

dscf0233

Narsis lagi di pos pendakian

Mampir ke toilet basecamp dan ternyata petugas basecamp adalah guide yang dulu mengantar kami saat trekking Gn Prau th 2015. Ngobrol sejenak lalu melanjutkan perjalanan ke homestay.

Sampai di papan Icon Dieng menjelang magrib dan bertemu pendaki yang sedang pepotoan, jadilah minta tolong dipoto juga. Alhamdulillah akhirnya sampai di homestay setelah maghrib diiringi rintik hujan

dscf0240

Blue hour..

Teman-teman lain masih menikmati sore di homestay, ada yang tidur, ada yang masak mie instant ada yang asyik dengan rokoknya.

Selesai bersih-bersih, acara malam dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol sesama peserta, berkenalan dan makan malam menikmati mie Ongklok, mie Jawa khas Dieng. Setelah makan malam, sebagian peserta keluar untuk menikmati suasana malam di Dieng dan photo-photo di icon Welcome to Dieng. Sedangkan saya, memilih istirahat dan tidur menikmati dinginnya Dieng dan menyiapkan energi untuk esok hari trekking ke Bukit Sikunir.

Minggu, 27 November 2016

Jam 02.30 TL sudah berkeliling kamar dan membangunkan peserta agar bersiap-siap. sesuai kesepakatan sebelumnya, kita akan mulai perjalanan menuju bukit Sikunir dari Homestay jam 03.00. Perjalanan dari homestay sampai bukit Sikunir juga tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya sekitar 15 menit kami sudah sampai di parkiran bukit Sikunir.

Sampai di parkiran, kami langsung bersiap2 trekking. Jalan menuju puncak bukit Sikunir berupa tangga bebatuan yang cukup rapi. Di beberapa tempat juga terdapat tali dan pagar besi untuk pegangan. Saat perjalanan menuju puncak bukit, kami berhenti sejenak untuk mencoba mengambil photo bintang (milky way), tapi sayangnya tidak berhasil.

Kemudian tiba di pos 1 saat azan subuh. Di pos 1 (puncak-1) tersedia mushola. kami berhenti untuk memberi kesempatan peserta muslim menunaikan sholat subuh. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan menuju puncak tempat kami akan menyaksikan matahari terbit. Pemandangan Bukit Sikunir pagi hari cukup terkenal dengan golden sunrise-nya jika cuaca mendukung, juga pemandangan gunung-gunung di sekitarnya.

Menjelang sunrise, acara narsis-narsisan dan pepotoan dimulai.

dscf1877

Golden hour

dscf1882

dscf1954

Saatnya narsis, bikin photo siluet

dscf1982

aneka gaya siluet

dscf1978

keseruan peserta. siluet

dscf1984

narsis lagi dong..

Setelah poto-poto di spot 1 kami pindah untuk poto-poto di spot selanjutnya. Telaga Cebong

dscf2009

Telaga Cebong

dscf2017

menikmati keindahan pagi dg view Telaga Cebong

dscf1952

pose ala-ala meniup asap

Dalam perjalanan turun dari bukit Sikunir, saya melihat pemandangan gunung Sindoro yang sangat menawan. Sayang untuk tidak diabadikan. Jadilah saya ajak mas Muji untuk photo-photo lagi (notes : motoin saya maksudnya hahaha)

dscf2039

Gunung Sindoro. View dari Bukit Sikunir. Sayang untuk tidak diabadikan

dscf2048

Alhamdulillah. I was there…

dscf2044

Narsis lagi aja dehh.. mumpung ada yang motoin

Masih belum puas rasanya pepotoan di sini. Tapi karena harus melanjutkan perjalanan dan teman-teman lain sudah lebih dulu turun saya bergegas menyusul turun. Di perjalanan turun saat beli pisang goreng, saya beli pisang yang belum digoreng, lumayan untuk sarapan. Sampai parkiran lanjut menikmati sarapan pagi dengan jambu kristal bekal dari Jakarta.

Perjalanan selanjutnya menuju DiengPlateu Theather dan Batu Pandang/Bukit Ratapan Angin, Itenerary yang sempat tertunda pada hari pertama.

Batu Pandang yang terletak di Kawasan Dieng Plateu, merupakan tempat yang tepat  untuk menikmati keindahan pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari ketinggian. Saat Trip Dieng tahun 2015 kami tidak kesini. Saat itu kami melihat pemandangan Telaga Warna dari ketinggian perbukitan di Kawasan Petak9.

dscf2079

dscf2154

Telaga Warna view

dscf2106

Pemandangan Telaga Warna dari Batu Pandang

dscf2121

Mengagumi indahnya ciptaan sang Maha Agung

Selesai pepotoan di Batu Pandang, kami turun untuk selanjutnya menonton film dokumenter mengenai Dieng. Menunggu waktu pemutaran film, kami menikmati jajanan di sekitar Dieng plateu. Saya menikmati wedang ronde hangat dengan harga Rp 7.000.

Karena saya sudah pernah nonton sebelumnya, saat teman-teman masuk ke ruang theatre saya memilih untuk duduk-duduk di luar dan sesekali photo-photo sambil menunggu teman-teman lain.

dscf2195

Cat Stones. th 2015 belum ada tulisan ini.

dscf2214

Photo dulu deh sebelum rame

dscf2220

photo rame-rame sebelum kembali ke homestay

Selesai menonton film dokumenter, photo-photo di depan Dieng Plateu, kami kembali ke homestay untuk menikmati sarapan pagi dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Begitu sampai homestay, tidak lama kemudian hujan turun cukup deras. Bersyukur selama perjalanan di luar kami tidak kehujanan.

Jam 11.00 kami sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta, dengan harapan tiba kembali di Jakarta sebelum jam 23.00. Untuk makan siang hari ini, nasi kotak telah disiapkan untuk dinikmati dalam perjalanan. Alhamdulillah perjalanan menuju Jakarta cukup lancar meski sedikit diselingi drama ada yang tertinggal oleh-oleh sehingga kami yang sudah di tengah perjalanan menunggu TL lokal menyusulkan dengan motornya. Lalu setengah perjalanan  berikutnya sedikit complaint karena driver sepertinya agak terobsesi untuk mengejar waktu tiba di Jakarta secepatnya.

Akhirnya kami tiba di Kalibata mungkin sekitar jam 23.00. Saya lupa persisnya, karena saya tertidur lelap bahkan saya tidak tahu ketika beberapa penumpang sudah turun di Bekasi dan tempat lain sebelum Kalibata. Saya kesulitan membuka mata sampai khawatir kalau tidak bisa bangun dan ditinggal. Entahlah sepertinya saya mengigau karena ketakutan ditinggal di mobil dan berteriak “jangan tinggalin saya..” hahahah.  Alhamdulillah jam 00.30 sudah sampai di rumah dan tidur kembali.

Meski sudah dua kali ke Dieng, suatu saat saya ingin kembali ke sana, masih ingin merasakan camping di Gn Prau. Semoga.

Advertisements

2 thoughts on “Menikmati Keindahan Dieng, 25-27 Nov 2016

  1. […] tidaklah lebih tinggi dari Papandayan yang juga terdapat di Garut maupun Prau yang berada di Dieng. Namun dari beberapa artikel yang saya baca treknya cukup menantang bahkan sering disebut Semerunya […]

    Like

  2. […] hanya tersendat saat masih berada di dalam kota. Kami melalui jalur Banjarnegara untuk menuju Dieng kali ini. Lebat hutan di kanan kiri jalur yang dilalui sudah memanjakan mata kami bahkan sampai AC […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s